Selasa, 24 Juli 2018

Black out and Special One to Rely On

Hari ini saya mendatangi sidang pendadaran sobat saya. Everything went smoothly sampai akhirnya saya balik ke kost. Setelah melepas lelah sebentar saya kembali membuka file skripsi saya. Disamping itu saya membuka laman youtube nge-play Ost Critical Eleven 'Sekali lagi' yang dinyanyiin Isyana. Saya memang lagi suka lagu ini. Ditengah menikmati lalu, unpredictably, nggak lama kemudian tiba-tiba mati lampu :(

Yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah bakal berapa lama nih? Sejak kejadian mati lampu sampai 3 hari 2 malam full tempo hari bikin saya sering parno kalo mati lampu di kost. Seperti yang terjadi hari ini. Setelah lewat azan maghrib dan masih belum nyala, saya mulai gusar. Pikiran untuk keluar dari kost pun muncul terlebih saat baterai ponsel sudah lowbatt. Tapi saya masih enggan buat bangun dari tempat tidur di tengah kegelapan ini.

Rasanya mau ngajak orang buat keluar deh. Sempet sih kepikiran satu nama, tapi takut dia sibuk. Nghubungi adek buat ngajak keluar juga slow response taunya lagi pergi juga. Ya udah saya nggak mau mikir berulangkali lagi. Udah nggak nyaman juga sama suasana gelap ini, akhirnya bermodal sisa baterai hp 12% Izza pesen gojek ke Lippo Mall. Untung masih bisa buat pesen gojek.

Setelah muter-muter mall tersebut akhirnya nemu sumber listrik juga. Problem Solved!

Sebagai makhluk yang percaya sama kehendak Tuhan, lagi-lagi Tuhan bisa bikin saya melakukan sesuatu sendiri tanpa mengandalkan orang lain (kecuali Gojek yaaa). Maksud saya adalah saya nggak harus merepotkan teman bahkan adek buat nyelesaiin masalah ini.

Teringat juga beberapa waktu lalu saat repot menyebar kuesioner penelitian. Mulai dari beli souvenir, bungkusin souvenir sama buklet kuesionernya sampai naik turun tangga nyebar di tempat penelitiannya pun saya lakuin sendiri. Setelah saya renungi, kalau ngga dikasih kekuatan sama Tuhan mungkin saya nggak bisa melakukan itu. I believe Keberanian buat keluar dari zona nyaman saya itu saya dapat dari Tuhan.

Saya pun jadi ingat saat waktu awal-awal melakukan perawatan gigi. Hanya saat konsultasi dan ronsen rahang saya ditemani mama. Sisanya dari pemasangan bracket sampai control bulanan rutin saya jalani sendiri. Bahkan saat odontektomi (operasi minor menangkat gigi bungsu) pun saya jalani sendiri, padahal ada rasa takut pada diri saya waktu itu.

Segala hal-hal nggak enak yang saya alami seperti sedih, frustrasi, sampai stress Alhamdulillah masih bisa saya kontrol. Walaupun perasaan seperti itu masih sering muncul, but I can say that saya bisa melaluinya tanpa dukungan yang melimpah ruah dari people around me (Kecuali dukungan orang tua sih full ya). Yang saya maksudkan disini adalah dari teman. Dan saya tidak pernah menyalahkan mereka karena tiap orang punya prioritasnya masing-masing. Selain itu dari dukungan penuh cinta dari pacar. Hey look! Izza masih bisa balikin mood sendiri tanpa diajak jalan sama pacar.

I do believe that God makes everything happens for a reason. But seriously, I still wonder why God let me did almost everything by myself without someone to rely on. Disatu sisi saya sangat bersyukur tidak perlu merepotkan orang lain untuk menyelesaikan hal atau masalah yang harus saya selesaikan, tapi disisi lain saya bertanya-tanya dalam hati "Why God?"

Some people said like "Because Allah tau kamu cukup kuat untuk melakukannya sendiri".

Hmmm mungkin gitu. Tapi saya pikir manusiawi yaaa, kalau terkadang saya merasa butuh yang namanya special one to rely on. Buat cerita seneng maupun susah, buat dimintain bantuan saat saya nggak bisa. Buat dukung saya dikala down.

Tapi ternyata masih sepercaya itu Tuhan sama saya buat melakukan banyak hal sendiri. Tuhan masih yakin saya bisa jadi single fighter. Jadi saya bisa apa?

Tetep bersyukur dan berdoa supaya Tuhan ngasih kekuatan disetiap langkah, baik sendiri maupun sama orang lain.

Mungkin seperti itu.

Jumat, 20 Juli 2018

Malu sama Tuhan

Di postingan sebelumnya (just click here!), saya pernah bilang kalo saya bukan tipe orang yang relijius-relijius amat. Like a roller coaster, iman saya sesering itu naik turun.

Cerita ini berawal dari Papa saya yang telepon. Mama saya di sebelah Papa sih lagi masak buat buka puasa mereka puasa senin kamis. Ya biasa sih di telepon tanya lagi ngapain. Saya jawab kalau saya lagi pusing sama skripsi saya. Apa jawaban papa saya?

"Ya sudah santai aja ngerjainnya..."

(Sambil diam memasang telinga, saya sudah paham kearah mana pembicaraannya, karena sebelumnya juga seperti itu)

"...Makanya berdoa, nak. Prinsip papa tuh seperti itu. Kita nggak cuma ngandelin otak. Tapi berdoa juga sama Allah. Makanya kalo salat tuh jangan kayak orang balapan. Salat tuh harus dinikmati kayak orang lagi makan. Abis salat duduk dulu yang tenang abis itu berdoa. Mba Ica kalo siang nggak ngapain-ngapain kan? Baca surat Al-Waqiah..."

Dalam hati saya cuma membatin "Please Papa saya lagi pusing, why you should bring those preach again this time?"

Then I opened my mouth "Tapi Ica tuh nggak bisa langsung begitu, Pa. Proses yang kayak gitu buat Ica tuh jalannya harus pelan-pelan, nggak bisa langsung begitu."

Somehow pas ngomong gitu saya tuh berasa tercekat. Dan mata juga pedih berasa mau nangis.

Well, there's nothing wrong sama nasihatnya Papa. Tapi, kondisi saya yang lagi down, iman lagi turun-turunnya juga terjadi pergulatan hati. Hal itu bikin semuanya terdengar klise (Astaghfirullah ampun jangan ditiru yaaa).

Saya merasa kayak "I prayed a lot, but God didn't let me graduate this month." "I prayed that I have special one, but I am still being alone." "Why did God do this to me?"

Telepon ditutup. Saya menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengingat beberapa hal yang bikin saya nggak berlarut-larut nggak percaya sama Tuhan. Saya teringat perjalanan saya sampai di titik ini. Ya, Tuhan udah ngasih saya kekuatan sampai titik ini. Saya pun kembali sadar, dibalik tertundanya suatu keinginan pun pasti ada maksud dibaliknya. Everything happens for a reason.

Saya introspreksi ke diri saya sendiri. Salat saya belum sempurna, belum juga ibadah yang lain. Tapi Tuhan masih baik ngasih saya kekuatan sampai titik ini. Dan saya masih nggak tau diri malah minta sesuatu yang lebih. Hello, Za? Kamu sadar?

Disitulah tangis saya pecah.

Tuhan tuh beneran maha baik. Walaupun makhluknya hina, pertolongan-NYA akan selalu ada, asal kita mau minta dan percaya. Disini saya malu berasa jadi makhluk yang nggak tau diri di hadapan Tuhannya.

I was be like "Ya Allah kok gue gini amat ya? Nggak tau diri banget"

Dibalik rasa malu itu pun saya bertanya ke diri saya sendiri. God, please forgive me!What should I do?





Mungkin jawabannya seperti kata Papa saya. Just pray! My God is The Enricher.

Rabu, 18 Juli 2018

Beauty and Body Shaming

Nowadays, I often see bad comments about someone's appearances in their social media. Nggak cuma orang biasa, bahkan orang terkenal pun jadi sasaran. Mungkin karena fisik adalah hal yang mudah dilihat, maka ada kecenderungan seseorang menilai penampilan fisik terlebih dahulu daripada hal yang lain.

According to en.oxforddictionaries.com, body shaming is the action or practice of humiliating someone by making mocking or critical comments about their body shape or size .

Dear people, don't you know what's bad effect of body shaming to someone?

Efek yang paling terasa langsung adalah mempengaruhi kepercayaan diri orang tersebut.


Sekedar berbagi pengalaman, saat saya masih SD, salah satu bagian tubuh saya menjadi ledekan teman laki-laki saya gara-gara gigi depan saya kayak gigi kelinci dan bikin bibir agak susah terkatup rapat. Seriously guys! Bahkan cara dia meledek pun masih terekam jelas dalam memori saya. Frankly, it hurts, man! Mungkin dia nggak tau, walaupun itu hanya candaan (semoga sih) tetapi bisa mempengaruhi self-esteem saya saat itu.

Mungkin diluar sana, banyak perempuan yang merasa insecure sama dirinya sendiri kalau fisiknya dikomentari dengan nada negatif seperti "kamu gendutan ya?" "Kok iteman sih?" "kok kamu banyak jerawatnya sekarang?" dan sebagainya.

Hey kamu yang bilang begitu! Emang kamu bisa menjamin kalo perempuan yang gendut artinya dia makannya banyak? Apa kamu bisa menjamin perempuan yang item tandanya dia nggak pernah pake sunscreen? Apa kamu bisa menjamin kalo perempuan yang banyak jerawatnya tandanya dia males ngerawat muka?

Mungkin orang yang ngatain kayak gitu nggak tau kalo perempuan tersebut memang memiliki faktor bawaan yang bikin dia tetep gemuk walaupun makan dikit. Mereka nggak tau kalo faktor tumbuhnya jerawat banyak. Ada loh yang udah serajin apapun dia praktekin skincare tapi kalo hormon yang bekerja she can't help it but just accepted it.

Saya percaya bahwa kecantikan perempuan itu tidak hanya dilihat dari penampilannya. Bagi saya, wanita cantik itu banyak definisinya. Banyak loh cara wanita memancarkan cantiknya. Ada yang cantik karena senyumnya, ada yang cantik karena makeup, ada yang cantik karena nggak pake makeup, ada yang cantik karena manjanya, ada yang cantik karena independennya, ada yang cantik karena cueknya, ada yang cantik karena wawasannya, dan sebagainya.


Then what should people do? Just let her be. If you don't mind, just give her a sincere compliment. Wanita seneng loh kalo dipuji cantik. Walaupun suka ngelak bahkan bilang "Ah peres lo!" "Apaan sih!" Diam-diam ia suka. At least itu berlaku bagi saya. That's all.






Senin, 16 Juli 2018

Hi you overthere!

Hai yang disana! Sudah lama kita tidak berjumpa. Apa kamu masih inget aku? Kalau aku sih masih inget kamu sebagai best part dalam cerita hidupku.

Aku tahu pertemuan kita dulu cuma sebentar, dan setelah itu aku ngga punya kesempatan yang lebih buat mengenalmu lebih dalam. Tapi satu hal yang aku ingat dalam benakku, kamu adalah orang baik dari segala sisi. Semoga kamu ngga akan pernah menghancurkan persepsi baikku terhadap kamu yaaa. Dan asal kamu tahu, persepsiku yang melihatmu sebagai laki-laki tanpa cela membuatku sulit melihat laki-laki lain yang lebih baik dari kamu.

Oh ya, kamu apa kabar? Ingin rasanya aku bertanya hal ini. Tapi aku terlalu takut, akan segala konsekuensinya. Jadi aku lebih memilih diam.

Ingin aku bertanya, bagaimana kabar skripsimu? Semoga selalu lancar yaaa. Semoga kita bisa bertemu saat wisuda nanti.

Sedihnya, dari sekian banyak harapan yang aku buat tentangmu membuatku tersadar akan satu hal...terlalu sulit buatku bahkan untuk menggapai sebatas punggungmu saja.

Namun aku masih berharap, dari segala kerumitan yang ada di dunia ini...aku ingin mencintaimu dengan sederhana.







Dari aku, yang pernah menyelipkan namamu dalam doa secara diam-diam

Jumat, 13 Juli 2018

Catatan Umur 22 tahun

Apa yang pertama kali melintas dipikiran saat denger kata 22? Lagunya Taylor Swift? That's right. Tapi disini saya nggak akan ngobrolin tentang lagunya apalagi video klip-nya yang storyline nya yang keliatannya menyenangkan banget. I will just talk about my 22.

Di usia saat ini, yang bisa dibilang masa anak kencur yang baru kenal kehidupan, saya mulai banyak mengalami masa-masa up and down. Dimulai dari saya mengerjakan skripsi. Saya mendapat banyak pengalaman yang menempa mental saya. Nggak jarang air mata mewarnai masa-masa ini. Kemudian datanglah masa dimana teman-teman saya di kampus mulai sidang pendadaran dan wisuda. Disatu sisi saya turut bahagia tapi disisi lain juga sedih. Melihat teman yang udah selesai kuliah kurang dari 4 tahun, dapet gelar sarjana sebelum ulang tahun ke 22 sukses membuat saya merasa sedih karena saya tidak bisa mencapai itu. Di usia ini saya merasakan yang namanya nggak bisa tidur karena kepikiran skripsi. Stress sampai panen jerawat. I think it would be my worst skin condition for a long time :(

Saya kembali merasa inferior saat melihat profil linkedin teman-teman saya. Bisa dibilang pencapaian saya selama kuliah nggak banyak. Pengalaman magang, keahlian seperti psychological testing, interviewing, training? No, I have nothing.

Pertanyaannya...Why do I sad about other's achievement?

I tried to find the answer myself. Setelah berpikir, saya menyadari bahwa sejak dulu saya punya ambisi besar di bidang akademik. Dari SD hingga SMA saya punya mindset bahwa saya harus jadi yang terbaik diantara sekian banyak orang. Dan sekarang saya tidak menyangka bahwa mindset itu menjadi bumerang ke diri saya sendiri. I tend to blame myself if I failed to fulfill my target.

Sekarang pun saya mencoba memperbaiki mindset saya tersebut. I learn how to deal with failure, how to accept myself, how to love myself, how to be grateful for everything I have.

"Dan sekarang saya tidak menyangka bahwa mindset itu menjadi bumerang ke diri saya sendiri."

On other side, I would say that my love story is.... nggak ada yang bisa dibanggain. Memang sih, nggak ada korelasi antara punya pacar dan kesuksesan karir di masa depan. Lagian yang udah pacaran lama terus putus juga banyak.

Memang saya akui kalau saya adalah orang yang menjunjung tinggi privasi saya bahkan kadang bisa bete kalo ada orang masuk ke personal zone saya, but sometimes I need someone around me intimately.


Saya pun mengakui kalau saya punya keinginan kuat buat jadi perempuan yang independent, yang nggak bergantung sama laki-laki buat mendapatkan apa yang dipengin/dituju. But Sometimes I need someone to encourage me when I'm just down to hoping. Kadang saya butuh seseorang buat ngobrolin hal-hal receh sampai bertukar pikiran tentang hal-hal yang serius.

Dari segi penghasilan sendiri juga hmm nggak ada yang bisa dibanggain. Saya sangat salut sama teman yang udah mulai berbisnis sejak muda. Begitu pula idol k-pop (kebetulan saya suka kpop) yang seumuran tapi dia udah sukses (Ini agak nggak rasional sih self-compare-nya). Sedangkan saya? Masih mengandalkan uang saku dari orangtua. Inilah yang membuat saya yang pada awalnya berambisi untuk lulus cepat dengan harapan bisa meringankan pengeluaran finansial orangtua.

Kemudian berbagai statement muncul even dari orang dekat.

"Ya makanya buruan lulus."

"Kamu udah punya pacar belum? Udah tengah tahun 2018 lho"

"Kebanyakan dosa kali kamu makanya jomblo terus. umurmu berapa sekarang? 22? mungkin kamu masih santai nanti kalo udah 25 baru panik."

dan lain-lain

Saya mencoba tidak baper. Tapi tetep aja omongan tidak lantas masuk telinga kanan kemudian langsung keluar telinga kiri. Omongan tersebut masuk ke otak saya dan saya inget angka 22. Then I judge myself and it sounds like I blame myself. "Gue 22 tahun prestasi nggak ada yang dibanggain. Pacar nggak punya. Penghasilan sendiri belum punya." "Gini amat yak hidup gue." Na ni nu la la la dan sebagainya. Buat mikir ke depan pun terkadang saya nggak tau apa yang akan saya lakukan. It seems like I have quarter life crisis.

Ada loh moment dimana saya sedih memikirkan hal itu sampe nahan buat nggak nangis karena lagi di jalan. Se-drama itu!

Di saat menghadapi hard times seperti itu, terkadang saya butuh seseorang buat curhat. Saya nggak nyari orang yang lebih wise dari saya. Saya cuma butuh orang yang posisinya lagi sama kayak saya biar dia bisa relate tanpa nge-judge.

Pertanyaannya....kok nggak curhat sama temen?

Jadi, saya adalah tipe orang yang agak susah percaya sama orang terutama dalam hal curhat hal-hal yang penting buat hidup saya. I have many friends, but not all of them I can trust.

Memang saya ingin punya teman yang bisa diajak ngobrol dari hal receh sampai hal penting dan ngomongin hal yang bisa bikin saya nangis. And sadly, I bet I still have no one.

Jadi media seperti blog inilah yang jadi obat saya jika saya nggak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan ke orang lain. Writing for healing.

Back to my 22. Saya merasa cukup banyak perubahan dalam diri saya di usia ini. Saya belajar lebih sabar  dan ikhlas menjalani apa yang ada di depan mata. Saya berusaha untuk menghubungkan apa yang terjadi di hidup saya dengan apa maksud Tuhan dibaliknya. Saya pun belajar bahwa semua orang punya "zona waktu"nya masing-masing.

And I tried to do what my favourite beauty influencer, Suhay Salim. She said  "At least you need to understand 3 things: 1) You can not control everything. 2) Everything has consequences. 3) Everything is gonna passed. 

Then I also add with mine : Everything happen for some reason.

Itu sih yang bikin hidup saya jadi lebih selow saat ini. Let it flow. Begitu kira-kira. But I still do my best.

Although my 22 seems not special at least so far, tapi saya selalu percaya bahwa hidup terus berjalan dan ibarat roda, terus berputar. Saya percaya Tuhan nggak mungkin membiarkan makhluknya gini-gini aja asal kitanya mau usaha.

Tentu ada masanya saya lulus, saya punya pasangan, saya punya penghasilan sendiri. I believe the day will come. 

It sounds cliche, but I believe that this is a part of my life. This is a part of process of my maturity. Someday I will remember these days. 

Saya nulis ini cuma mau berbagi soal concern saya. Mungkin tidak sepenuhnya bisa relatable sama orang lain. Tapi harus diingat bahwa setiap orang tentu punya concern yang berbeda. If you think that other's concern are nothing to you, please don't judge them.


I know that my those current concern are just like a piece of cake. Belum ada apa-apanya dibanding orang dewasa lain. Tapi satu hal yang saya dapat adalah semakin bertambahnya umur pun akan muncul concern lain yang membutuhkan kedewasaan kita dalam menghadapinya.

Finally, buat yang cerita usia 22 tahunnya lebih membahagiakan dari saya...lucky for you!

Buat yang cerita usia 22 tahunnya seperti saya bahkan lebih menyedihkan... you're not alone! Don't lose hope and keep going!

A Self-Reminder

Waktu buka blog ternyata ada tulisan yang dibuat Desember 2017 dan belum dipost. It's better late than never, so here we go!




Suatu hari saat saya scroll feed Instagram, sebuah akun yang sering memposting tentang quotes memposting gambar berisi tulisan seperti ini.
Don't compare your journey. Run your race!
Saya tertegun beberapa saat. Bener banget ini quote! Saat itu saya memang sedang merasakan insecurity luas biasa karena kegabutan saya di semester ini. Ya, saya merasa insecure jika melihat teman-teman saya yang punya aktivitas lain seperti magang atau jadi asisten dosen. Saya sedikit merasa sedih karena kesempatan itu tidak saya dapatkan karena satu dan lain hal. Jujur saya merasa tertinggal jauh dan merasa hidup kurang berfaedah.

Balik ke cerita kegabutan saya tadi, saya pun mulai mencoba berpikir secara jernih. Dan saya pun berpikir dengan kembali mengembalikannya sepenuhnya kepada Yang Kuasa. Mungkin ada sesuatu yang lain dibalik keadaan saya yang merasa gabut ini. Everything happens for some reasons, right? Saya orangnya ngga relijius-relijius amat sih, tapi dengan berfikir dan mengembalikannya kepada Tuhan, saya merasa tenang. Mungkin dibalik kegabutan saya ini ada hal baik kecil maupun besar yang harus saya lakukan demi jadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Oleh karena itu saya mencoba berusaha mencari kesibukan dan produktif setiap harinya.

Balik lagi ke quote diatas, saya mengakui ternyata susah juga yaa buat nggak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apalagi di zaman sekarang yang mana medsos tengah naik daun. Banyak orang berlomba-lomba memposting apa yang terjadi dihidupnya, dilihat banyak orang bahkan tanpa sadar bisa mempengaruhi orang lain secara positif maupun negatif.

Setelah membandingkan apa yang dilihat di medsos orang dan real life diri sendiri, terkadang timbul rasa tidak puas dalam diri ini. Apalagi jika yang dibandingkan itu dengan orang yang lebih kaya, lebih pintar, lebih beruntung dan sebagainya. Saya mengalami hal itu dimana saya menjadi insecure, sedih, menyalahkan keadaan bahkan lupa bersyukur. Buruk sekali memang hal itu untuk kesehatan mental saya. Oleh karena itu saat ini saya sedang berusaha mengurangi frekuensi penggunaan medsos terutama Instagram dan fitur instastory-nya. Dengan begitu saya menjadi tidak begitu tahu bagaimana hidup orang lain dan lebih berfokus ke hidup saya sendiri. Doakan semoga berhasil yaa.

Apalah arti mengurangi penggunaan medsos jika dari diri sendiri masih aja dengan insecure membandingkan diri dengan orang lain. So, ini buat catatan ke diri sendiri juga sih : Accept yourself no matter what!




Tiba-tiba First Wedding Anniversary!

Time flies. Over one year living in marriage life already! Kata orang kehidupan pernikahan itu kompleks. Dan begitu gue menyelami dunia pern...

Popular Posts