Apa yang pertama kali melintas dipikiran saat denger kata 22? Lagunya Taylor Swift? That's right. Tapi disini saya nggak akan ngobrolin tentang lagunya apalagi video klip-nya yang storyline nya yang keliatannya menyenangkan banget. I will just talk about my 22.
Di usia saat ini, yang bisa dibilang masa anak kencur yang baru kenal kehidupan, saya mulai banyak mengalami masa-masa up and down. Dimulai dari saya mengerjakan skripsi. Saya mendapat banyak pengalaman yang menempa mental saya. Nggak jarang air mata mewarnai masa-masa ini. Kemudian datanglah masa dimana teman-teman saya di kampus mulai sidang pendadaran dan wisuda. Disatu sisi saya turut bahagia tapi disisi lain juga sedih. Melihat teman yang udah selesai kuliah kurang dari 4 tahun, dapet gelar sarjana sebelum ulang tahun ke 22 sukses membuat saya merasa sedih karena saya tidak bisa mencapai itu. Di usia ini saya merasakan yang namanya nggak bisa tidur karena kepikiran skripsi. Stress sampai panen jerawat. I think it would be my worst skin condition for a long time :(
Saya kembali merasa inferior saat melihat profil linkedin teman-teman saya. Bisa dibilang pencapaian saya selama kuliah nggak banyak. Pengalaman magang, keahlian seperti psychological testing, interviewing, training? No, I have nothing.
Pertanyaannya...Why do I sad about other's achievement?
I tried to find the answer myself. Setelah berpikir, saya menyadari bahwa sejak dulu saya punya ambisi besar di bidang akademik. Dari SD hingga SMA saya punya mindset bahwa saya harus jadi yang terbaik diantara sekian banyak orang. Dan sekarang saya tidak menyangka bahwa mindset itu menjadi bumerang ke diri saya sendiri. I tend to blame myself if I failed to fulfill my target.
Sekarang pun saya mencoba memperbaiki mindset saya tersebut. I learn how to deal with failure, how to accept myself, how to love myself, how to be grateful for everything I have.
"Dan sekarang saya tidak menyangka bahwa mindset itu menjadi bumerang ke diri saya sendiri."
On other side, I would say that my love story is.... nggak ada yang bisa dibanggain. Memang sih, nggak ada korelasi antara punya pacar dan kesuksesan karir di masa depan. Lagian yang udah pacaran lama terus putus juga banyak.
Memang saya akui kalau saya adalah orang yang menjunjung tinggi privasi saya bahkan kadang bisa bete kalo ada orang masuk ke personal zone saya, but sometimes I need someone around me intimately.
Saya pun mengakui kalau saya punya keinginan kuat buat jadi perempuan yang independent, yang nggak bergantung sama laki-laki buat mendapatkan apa yang dipengin/dituju. But Sometimes I need someone to encourage me when I'm just down to hoping. Kadang saya butuh seseorang buat ngobrolin hal-hal receh sampai bertukar pikiran tentang hal-hal yang serius.
Memang saya akui kalau saya adalah orang yang menjunjung tinggi privasi saya bahkan kadang bisa bete kalo ada orang masuk ke personal zone saya, but sometimes I need someone around me intimately.
Saya pun mengakui kalau saya punya keinginan kuat buat jadi perempuan yang independent, yang nggak bergantung sama laki-laki buat mendapatkan apa yang dipengin/dituju. But Sometimes I need someone to encourage me when I'm just down to hoping. Kadang saya butuh seseorang buat ngobrolin hal-hal receh sampai bertukar pikiran tentang hal-hal yang serius.
Dari segi penghasilan sendiri juga hmm nggak ada yang bisa dibanggain. Saya sangat salut sama teman yang udah mulai berbisnis sejak muda. Begitu pula idol k-pop (kebetulan saya suka kpop) yang seumuran tapi dia udah sukses (Ini agak nggak rasional sih self-compare-nya). Sedangkan saya? Masih mengandalkan uang saku dari orangtua. Inilah yang membuat saya yang pada awalnya berambisi untuk lulus cepat dengan harapan bisa meringankan pengeluaran finansial orangtua.
Kemudian berbagai statement muncul even dari orang dekat.
"Ya makanya buruan lulus."
"Kamu udah punya pacar belum? Udah tengah tahun 2018 lho"
"Kebanyakan dosa kali kamu makanya jomblo terus. umurmu berapa sekarang? 22? mungkin kamu masih santai nanti kalo udah 25 baru panik."
dan lain-lain
Saya mencoba tidak baper. Tapi tetep aja omongan tidak lantas masuk telinga kanan kemudian langsung keluar telinga kiri. Omongan tersebut masuk ke otak saya dan saya inget angka 22. Then I judge myself and it sounds like I blame myself. "Gue 22 tahun prestasi nggak ada yang dibanggain. Pacar nggak punya. Penghasilan sendiri belum punya." "Gini amat yak hidup gue." Na ni nu la la la dan sebagainya. Buat mikir ke depan pun terkadang saya nggak tau apa yang akan saya lakukan. It seems like I have quarter life crisis.
Ada loh moment dimana saya sedih memikirkan hal itu sampe nahan buat nggak nangis karena lagi di jalan. Se-drama itu!
Di saat menghadapi hard times seperti itu, terkadang saya butuh seseorang buat curhat. Saya nggak nyari orang yang lebih wise dari saya. Saya cuma butuh orang yang posisinya lagi sama kayak saya biar dia bisa relate tanpa nge-judge.
Pertanyaannya....kok nggak curhat sama temen?
Jadi, saya adalah tipe orang yang agak susah percaya sama orang terutama dalam hal curhat hal-hal yang penting buat hidup saya. I have many friends, but not all of them I can trust.
Memang saya ingin punya teman yang bisa diajak ngobrol dari hal receh sampai hal penting dan ngomongin hal yang bisa bikin saya nangis. And sadly, I bet I still have no one.
Jadi media seperti blog inilah yang jadi obat saya jika saya nggak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan ke orang lain. Writing for healing.
Back to my 22. Saya merasa cukup banyak perubahan dalam diri saya di usia ini. Saya belajar lebih sabar dan ikhlas menjalani apa yang ada di depan mata. Saya berusaha untuk menghubungkan apa yang terjadi di hidup saya dengan apa maksud Tuhan dibaliknya. Saya pun belajar bahwa semua orang punya "zona waktu"nya masing-masing.
And I tried to do what my favourite beauty influencer, Suhay Salim. She said "At least you need to understand 3 things: 1) You can not control everything. 2) Everything has consequences. 3) Everything is gonna passed.
Then I also add with mine : Everything happen for some reason.
Itu sih yang bikin hidup saya jadi lebih selow saat ini. Let it flow. Begitu kira-kira. But I still do my best.
Although my 22 seems not special at least so far, tapi saya selalu percaya bahwa hidup terus berjalan dan ibarat roda, terus berputar. Saya percaya Tuhan nggak mungkin membiarkan makhluknya gini-gini aja asal kitanya mau usaha.
Tentu ada masanya saya lulus, saya punya pasangan, saya punya penghasilan sendiri. I believe the day will come.
It sounds cliche, but I believe that this is a part of my life. This is a part of process of my maturity. Someday I will remember these days.
Saya nulis ini cuma mau berbagi soal concern saya. Mungkin tidak sepenuhnya bisa relatable sama orang lain. Tapi harus diingat bahwa setiap orang tentu punya concern yang berbeda. If you think that other's concern are nothing to you, please don't judge them.
I know that my those current concern are just like a piece of cake. Belum ada apa-apanya dibanding orang dewasa lain. Tapi satu hal yang saya dapat adalah semakin bertambahnya umur pun akan muncul concern lain yang membutuhkan kedewasaan kita dalam menghadapinya.
Saya nulis ini cuma mau berbagi soal concern saya. Mungkin tidak sepenuhnya bisa relatable sama orang lain. Tapi harus diingat bahwa setiap orang tentu punya concern yang berbeda. If you think that other's concern are nothing to you, please don't judge them.
I know that my those current concern are just like a piece of cake. Belum ada apa-apanya dibanding orang dewasa lain. Tapi satu hal yang saya dapat adalah semakin bertambahnya umur pun akan muncul concern lain yang membutuhkan kedewasaan kita dalam menghadapinya.
Finally, buat yang cerita usia 22 tahunnya lebih membahagiakan dari saya...lucky for you!
Buat yang cerita usia 22 tahunnya seperti saya bahkan lebih menyedihkan... you're not alone! Don't lose hope and keep going!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar