Kamis, 22 Februari 2018

#dearmyfuturechildren : "Let's enjoy the beautiful sunset"

Hai Nak!

Kamu harus tahu kalau ibumu adalah penyuka sunset. Saat melihat matahari terbenam di sore yang cerah ibu bisa merasa bahagia. Apalagi kalau melihatnya di pantai ditemani suara ombak dan angin yang menyejukkan. I feel like I'm the happiest person in this world. Seriously!



Ibu janji suatu saat akan membawamu ke pantai untuk menikmati sunset bersama. Kamu bebas mau berlarian atau cuma santai-santai aja di atas pasir pantai yang halus. Tapi satu hal, jangan lupa luangkan beberapa saat untuk memandang indahnya matahari yang sedang terbenam.




Walaupun ibu suka melihat sunset di pantai, tapi tidak setiap hari ibu kesana. Pertama, ibu tinggal di tengah kota Jogja dan untuk menuju pantai kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam. Kedua, ibu pergi hanya jika ada ajakan teman.

Lalu bagaimana agar tetap bisa menikmati sunset? Ibu melihat sunset dari jendela kamar ibu. Walaupun tidak ada angin yang sejuk, ombak yang datang dan pergi, dan pasir yang halus, ibu masih bisa melihat rona orange kekuning-kuningan yang indah itu.


Oh ya, menara itu adalah menara masjid kampus UGM. Bisa dibilang ibu jadi saksi pembangunan menara itu loh. Dari yang tadinya hanya kerangka hingga tertutup dengan lempengan berwarna kuning sampai saat ini. Ini adalah gambar yang ibu ambil dari jendela kamar hari ini. Look at the reflection! It's not edited but it reflects on the windowpane!



See? I still can enjoy the beauty of sunset. Jadi, sesibuk-sibuknya kamu nanti, jangan lupa nikmatin sunset yaa!

#dearmyfuturechildren "Introduction"

This writing is dedicated to you, my future children.

This time I haven't met your father tho.

But sometimes in my daily life right now I think how I'll raise you in the future. 

I often reflect to my life and others.

I find perfection and flaws as well.

Then I decide that I want you to be better person than me in many ways.

Here I share my ideas based on my experiences and others.

I don't know you'll read this writing or not. But, believe me, this writing is just a small thing that shows how I love you.


Senin, 19 Februari 2018

Teman Makan yang Dirindukan

Hari ini, saat saya keluar dari kamar kost mau berangkat ke kampus (re: ngerjain skripsi di perpustakaan fakultas), saya berpas-pasan dengan tetangga kost yang saya yakin lebih muda dari saya. Saya nggak kenal dia karena sepertinya dia penghuni baru. Dia tampak rapi ala ala mau berangkat ke kampus. Di tangannya ia menenteng buku dan plastik bekas makanan sebagai sarapannya. 

"Rajin banget yaaa sempet sarapan dulu sebelum ngampus." Batin saya

Pikiran saya melayang ke kehidupan saya beberapa semester yang lalu. Iya waktu jaman semester awal saya juga hidup se-teratur dia. And look at me now! Sarapan aja siang banget, itu juga kalo nggak mager. Dan di weekdays pun lebih milih sarapan di kantin kampus.

Saya sampai di kampus sekitar pukul 9.10. Kantin udah cukup ramai. Saya pun segera pesen nasi ayam geprek di Bu Nonik sambil beli air mineral. Beberapa semester yang lalu saya selalu rajin bawa air minum sendiri dari kost. Sekarang? Nope.

Sekitar 15 menit saya nunggu makanan saya yang belum datang-datang juga. Ternyata kantin makin ramai. Entah kenapa tiba-tiba saya jadi merasa nggak nyaman. Bisa dibilang gelisah. Why? Karena saya makan tanpa teman sementara kantin rame banget. Sebelumnya saya nggak pernah segelisah ini jika makan tanpa teman di kantin. Tapi ramenya kantin pagi ini men-trigger jiwa introvert saya bereaksi nggak nyaman sama keramaian yang lebih dari biasanya.

Makanan saya akhirnya datang. Sambil makan saya sesekali mengamati sekitar. Banyak wajah-wajah yang nggak saya kenal. Kursi depan saya yang tadinya kosong tiba-tiba diisi sama dua mahasiswi.

"Kosong kan mbak?" Tanya salah satunya sebelum duduk.

Baiklah sekarang saya tidak duduk sendiri lagi. But the problem is I feel more awkward with them. Saya pun berusaha buat fokus ngabisin makanan saya yang berasa lama banget buat diabisin.

Pikiran saya pun kembali ke beberapa semester lalu. Saat saya masih punya banyak temen makan bareng di kantin. Nyaman aja gitu makan bareng temen sambil ngobrol-ngobrol. Nggak kayak sekarang.... ketemu sama temen yang dikenal kemudian makan semeja aja udah seneng banget.

Pikiran saya masih membanding-bandingkan hidup saya dari semester ke semester di kampus ini. Di saat masih jadi mahasiswa baru masih culun banget, masih semangat kuliah. Temen pun masih banyak.

Sekarang di saat jadi mahasiswa tua yang lagi skripsian saya ngerasa jadi single fighter. Hampir semuanya dilakuin sendiri. Saya nggak bisa bergantung dengan ajakan teman buat pergi ke kampus. Dia ke kampus, saya ke kampus. Dia nggak ke kampus, saya harus tetap ke kampus. Makan di kantin pun juga nggak bisa bergantung sama ajakan teman. Kalo tidak ada yang mengajak? Ya saya makan sendiri.


Saya cuma mau menyimpulkan aja sih dari contoh kecil diatas. Hidup tuh dinamis. Ada yang dateng, ada yang pergi. Ada yang tadinya rame, kemudian jadi sepi. Don't be sad about losing something because nothing is everlasting. That's all.

Minggu, 18 Februari 2018

Behave, please!

Pagi ini, saya dibikin gedeg gara-gara baca satu berita. Jadi semalem ada pertandingan final Piala Presiden 2018 antara klub asal Jakarta vs klub asal Bali di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pertandingan ini dimenangkan sama si klub asal Jakarta itu dengan skor 3-0. But, look what happened next! Singkatnya, supporter klub pemenang pertandingan ini bikin kerusakan stadion yang baru selesai direnovasi. Padahal stadion ini mau dipakai di ajang Asian Games 2018. Mereka nekat merusak dan menerobos pagar pembatas tribun waktu tim tersebut mengarak trofi keliling di Lapangan. Saya sangat menyayangkan aja sih dengan adanya oknum-oknum supporter yang kayak gini. Udah dikasih fasilitas bagus malah dirusak. Saya jadi mikir, gimana mau maju ya ini negara kalo mentalitas orangnya aja masih kayak gini? Ini hanya contoh kecil loh ya.

Setelah saya renungi lagi memang ini nih yang lagi happening banget di Indonesia. Saat seseorang suka sama figure tertentu atau sesuatu yang lain bisa sampai fanatik. Apa aja bisa dilakukan demi figure yang disukainya itu, bahkan tak jarang bisa merugikan lingkungan sekitarnya. Saat yang difanatikkan itu salah pun tetap aja dibelain dengan segala pembenarannya.

Sejujurnya saya masih bingung sih, tindakan supporter klub diatas itu karena fanatik atau memang dasarnya (sorry) norak ya? Saya kira saya memang perlu membaca artikel psikologi tentang fanatisme. Jika ada yang tau, please let me know! Tapi yang jelas, menurut saya sesuka apapun kita terhadap seseorang atau sesuatu tetaplah berperilaku sewajarnya. Jangan sampai merugikan lingkungan sekitar.

Ini jadi reminder buat diri sendiri juga sih. Suka boleh, tapi nggak perlu fanatik, apalagi sampe bego!

Jumat, 16 Februari 2018

Ngomongin Soal Renovasi

This is the first post in 2018. Ke depannya pengin lebih rajin nulis sih (re: curhat). Tapi masih sering mager, ngga ada ide, sampai ada prioritas lain yang lebih penting. Sebenernya saya nulis disini juga nggak tau berfaedah buat orang banyak atau engga. Yang jelas I just want to write the unspoken words.

***

Pagi ini, seperti biasa, ibu menelpon saya. Dari awal saya kuliah di Jogja, hampir setiap hari ibu menelpon saya setidaknya 2 kali, pagi dan sore hari. Serutin itu? Iya. Walau terkadang ada saatnya saya sedang tidak mood untuk bicara dengan siapa-siapa, saya tetap berusaha untuk mengangkat telepon dari ibu. Saya memahami keprotektifan ibu saya dengan bersyukur bahwa saya mempunyai orangtua yang peduli terhadap saya.

Kembali ke percakapan telepon. Pagi ini selain bertanya keadaan seperti biasanya,  ibu saya juga membahas renovasi rumah yang masih berlangsung. Sebenarnya renovasi yang dilakukan tidak banyak, namun cukup membuat perubahan di rumah.

"Ya mama kan punya dua anak gadis, jadi gapapa rumahnya dirapiin lagi siapa tau ada laki-laki yang dateng ngelamar." Seloroh ibu saya

Saya cuma ketawa. Ya bener juga sih. Siapa tau ada yang dateng ngelamar (Walaupun belum tau kapan dan siapa yang datang LOL). At least kalau rumahnya lebih rapi kan jadi lebih enak diliat sama yang dateng. Tapi sebenernya sih tujuan renovasinya biar bikin rumah makin nyaman buat yang tinggal aja. Jangan gede rasa dulu ya hey kamu yang mau dateng!

Percakapan pun berlanjut. Ibu saya cerita semalam mbak sepupu saya main ke rumah dan ngobrol banyak. Ia pun bertanya seperti "Ica sih udah udah punya pacar atau belum?" "Ica ngga terbuka gitu kalo soal pacaran?"

"Beluuuuuuummm." Ujar saya sambil ketawa. Saya pun kalo udah punya pacar tentu akan saya kenalin ke ibu saya.

Sebelum menutup telepon, ibu saya memberikan wejangannya tentang hmm... jodoh. Intinya carilah laki-laki yang seiman, bisa membimbing soal urusan dunia dan akhirat. Dan sederet wejangan lainnya.


***



Di siang hari, di tengah-tengahnya panasnya Jogja hari ini, pikiran saya terusik dengan percakapan tadi pagi dan saya pun merefleksikannya pada diri sendiri. Seorang perempuan single yang baru menginjak usia 22 tahun pada awal Februari lalu. Seorang perempuan yang menjunjung tinggi nilai hubungan romantis sehingga tidak ingin bertindak sembarangan berpacaran namun  terkadang hatinya goyah ketika melihat pasangan lain yang saling mengasihi.

Jika teringat sama yang dulu-dulu, saya sangat berharap untuk tidak bertemu lagi dengan seseorang yang sama seperti you know who. We ended up hurtly (I guess it's just for me) in short time. And honestly itu mempengaruhi ke diri saya sampai saat ini. That's why nggak pengin menjalin hubungan dan broke up in short time. But I understand that at the time we're just young teens who're still unstable and immature. 

Let's go to another related topic. Walaupun belum pernah membuktikannya, tapi saya termasuk orang yang percaya jika jodoh adalah cerminan diri. Kadang saya berkaca pada diri saya. Saya sangat sadar kalo saya masih sangat kurang dari berbagai aspek. Saya masih jadi orang yang kurang pengertian ke orang lain, nggak peka, masih selfish dan sebagainya. Saya masih perlu belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik dan yang paling penting menerima orang lain as a wholeness.

As we grow up, pengalaman yang udah kita dapet akan kita gunakan sebagai panduan agar hidup kita lebih baik baik lagi. Hal ini bisa terjadi di berbagai aspek kehidupan, termasuk soal jodoh. Baik pengalaman diri sendiri ataupun orang lain yang berkaitan dengan jodoh bisa membentuk ekspektasi di pikiran kita tentang jodoh yang kita harapkan. I dunno about others, but It happened to myself.

Kalau dari pengalaman sendiri, I've mentioned above, so that I didn't want to meet the same person as him. I deserve someone better, right? Selain itu juga dari observasi saya ke lingkungan sekitar. I can't stand with cigarette smoke so I don't expect that my future partner is a smoker. I like someone who pray well and obedient to our religion so I do expect that my future partner is someone like that. Saya senang melihat laki-laki yang baik ke semua orang, saya pun berharap pasangan di masa depan saya juga seperti itu. Dan sebagainya. Kalau dari pengalaman orang lain juga banyak. Nggak jauh-jauh deh, dari bapak saya. Tentu saya berharap dipertemukan dengan seseorang yang seperti bapak saya (in good ways).

Terkadang saya berpikir, ada nggak sih seseorang yang seperti saya harapkan?


Kalo jodoh adalah cerminan diri, go look at yourself! Kelakuan lo aja masih minus. Gih perbaiki diri. Direnovasi dulu itu diri lo. Trus kalo yang diharapkan datengnya lama, good thing surely takes time. Gitu loh, za!


Tiba-tiba First Wedding Anniversary!

Time flies. Over one year living in marriage life already! Kata orang kehidupan pernikahan itu kompleks. Dan begitu gue menyelami dunia pern...

Popular Posts