This is the first post in 2018. Ke depannya pengin lebih rajin nulis sih (re: curhat). Tapi masih sering mager, ngga ada ide, sampai ada prioritas lain yang lebih penting. Sebenernya saya nulis disini juga nggak tau berfaedah buat orang banyak atau engga. Yang jelas I just want to write the unspoken words.
***
Pagi ini, seperti biasa, ibu menelpon saya. Dari awal saya kuliah di Jogja, hampir setiap hari ibu menelpon saya setidaknya 2 kali, pagi dan sore hari. Serutin itu? Iya. Walau terkadang ada saatnya saya sedang tidak mood untuk bicara dengan siapa-siapa, saya tetap berusaha untuk mengangkat telepon dari ibu. Saya memahami keprotektifan ibu saya dengan bersyukur bahwa saya mempunyai orangtua yang peduli terhadap saya.
Kembali ke percakapan telepon. Pagi ini selain bertanya keadaan seperti biasanya, ibu saya juga membahas renovasi rumah yang masih berlangsung. Sebenarnya renovasi yang dilakukan tidak banyak, namun cukup membuat perubahan di rumah.
"Ya mama kan punya dua anak gadis, jadi gapapa rumahnya dirapiin lagi siapa tau ada laki-laki yang dateng ngelamar." Seloroh ibu saya
Saya cuma ketawa. Ya bener juga sih. Siapa tau ada yang dateng ngelamar (Walaupun belum tau kapan dan siapa yang datang LOL). At least kalau rumahnya lebih rapi kan jadi lebih enak diliat sama yang dateng. Tapi sebenernya sih tujuan renovasinya biar bikin rumah makin nyaman buat yang tinggal aja. Jangan gede rasa dulu ya hey kamu yang mau dateng!
Percakapan pun berlanjut. Ibu saya cerita semalam mbak sepupu saya main ke rumah dan ngobrol banyak. Ia pun bertanya seperti "Ica sih udah udah punya pacar atau belum?" "Ica ngga terbuka gitu kalo soal pacaran?"
"Beluuuuuuummm." Ujar saya sambil ketawa. Saya pun kalo udah punya pacar tentu akan saya kenalin ke ibu saya.
Sebelum menutup telepon, ibu saya memberikan wejangannya tentang hmm... jodoh. Intinya carilah laki-laki yang seiman, bisa membimbing soal urusan dunia dan akhirat. Dan sederet wejangan lainnya.
***
Di siang hari, di tengah-tengahnya panasnya Jogja hari ini, pikiran saya terusik dengan percakapan tadi pagi dan saya pun merefleksikannya pada diri sendiri. Seorang perempuan single yang baru menginjak usia 22 tahun pada awal Februari lalu. Seorang perempuan yang menjunjung tinggi nilai hubungan romantis sehingga tidak ingin bertindak sembarangan berpacaran namun terkadang hatinya goyah ketika melihat pasangan lain yang saling mengasihi.
Jika teringat sama yang dulu-dulu, saya sangat berharap untuk tidak bertemu lagi dengan seseorang yang sama seperti you know who. We ended up hurtly (I guess it's just for me) in short time. And honestly itu mempengaruhi ke diri saya sampai saat ini. That's why nggak pengin menjalin hubungan dan broke up in short time. But I understand that at the time we're just young teens who're still unstable and immature.
Let's go to another related topic. Walaupun belum pernah membuktikannya, tapi saya termasuk orang yang percaya jika jodoh adalah cerminan diri. Kadang saya berkaca pada diri saya. Saya sangat sadar kalo saya masih sangat kurang dari berbagai aspek. Saya masih jadi orang yang kurang pengertian ke orang lain, nggak peka, masih selfish dan sebagainya. Saya masih perlu belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik dan yang paling penting menerima orang lain as a wholeness.
As we grow up, pengalaman yang udah kita dapet akan kita gunakan sebagai panduan agar hidup kita lebih baik baik lagi. Hal ini bisa terjadi di berbagai aspek kehidupan, termasuk soal jodoh. Baik pengalaman diri sendiri ataupun orang lain yang berkaitan dengan jodoh bisa membentuk ekspektasi di pikiran kita tentang jodoh yang kita harapkan. I dunno about others, but It happened to myself.
Kalau dari pengalaman sendiri, I've mentioned above, so that I didn't want to meet the same person as him. I deserve someone better, right? Selain itu juga dari observasi saya ke lingkungan sekitar. I can't stand with cigarette smoke so I don't expect that my future partner is a smoker. I like someone who pray well and obedient to our religion so I do expect that my future partner is someone like that. Saya senang melihat laki-laki yang baik ke semua orang, saya pun berharap pasangan di masa depan saya juga seperti itu. Dan sebagainya. Kalau dari pengalaman orang lain juga banyak. Nggak jauh-jauh deh, dari bapak saya. Tentu saya berharap dipertemukan dengan seseorang yang seperti bapak saya (in good ways).
Terkadang saya berpikir, ada nggak sih seseorang yang seperti saya harapkan?
Kalo jodoh adalah cerminan diri, go look at yourself! Kelakuan lo aja masih minus. Gih perbaiki diri. Direnovasi dulu itu diri lo. Trus kalo yang diharapkan datengnya lama, good thing surely takes time. Gitu loh, za!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar