10 Oktober 2020. 2 hari menuju 1 tahun perginya Papa, yaitu 12 Oktober 2019. Ngga kerasa udah mau satu tahun dari hari itu. Hari dimana perginya papa yang sangat mendadak, buat selamanya. Hari dimana gue ngrasa kehidupan gue berhenti. I was all frozen, at the time. Dan setelah itu, jatuh sejatuh jatuhnya.
Allah maha baik. Perlahan gue diangkat dari keterpurukan itu. And here I am now. Melanjutkan hidup sendiri di ibukota dengan segala suka dukanya. Dan juga melanjutkan hidup sama Mama dan Adik. Kadang gue masih suka ngga percaya sih kalo sekarang kita tinggal bertiga.
Back at the hardest time, ada masanya gue sangat denial terhadap kepergian Papa. Banyak pertanyaan muncul di pikiran gue. Dan mostly pertanyaan gue adalah kenapa. Gue sangat merasa butuh jawaban atas apa yang terjadi ke gue. Kenapa tiba-tiba? Kenapa harus gue yang mengalami? Kenapa bokap gue? Kenapa timingnya gitu? Dan seterusnya.
Sampe detik ini terkadang gue masih mempertanyakan hal itu. Katanya Allah ngasih cobaan ke umatnya yang dianggap mampu. Well, I can't be strong all the time. Ya memang saat ini gue terlihat baik-baik aja setelah ditinggal Papa. But sometimes, ada momennya gue tuh butuh sosok figur Bapak, apalagi kalo gue lagi having hard times yang mostly gue rasain di tempat kerja. I need his advices, his encouraging words, and also his prays. It got me thought those why questions.
Tapi ya gimana, mau gimana pun juga he will never come back. I still have to run my life well and my choice is bertahan.
Pa, maaf belum sempat ke tempat papa lagi karena keadaannya lagi kayak gini. Kalo Papa masih ada, Papa juga pasti stress sih ngadepin ini pandemi ngga kelar-kelar. Tapi sekarang Papa udah tenang disana. Allah Maha Baik.
Alfatihah buat Papa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar