Jumat, 30 Maret 2018

Jurnal KKN Izza - #1 Based on template instagram story

Belakangan ini lagi nge-trend orang-orang di Instagram memposting Instagram story dengan memakai template-template. Saya ikutan juga dong, tapi tentunya dengan memilih-milih mana template yang sekiranya bias saya pakai. Malam ini saya menemukan template Instagram story yang menurut saya menarik dari akun sharing info seputar KKN di kampus saya.


Here it is what I post:




Tadinya saya akan menuliskan post script terutama untuk kotak-kotaknya karena ada cerita saya dibalik hal itu. Tapi karena space-nya sempit, I got an idea buat menceritakannya di blog. So, lets begin!



Ikut plotting LPPM
Ya jadi saya nggak mengikuti open recruitment tim manapun. Memang dulu banget saya pengin KKN di luar Jawa, tapi seiring dengan berjalannya waktu saya sadar akan kondisi fisik saya dan berpikir bahwa mengabdi di masyarakat itu bukan perkara harus jauh tapi yang penting adalah di tempat yang membutuhkan dan kitanya ikhlas.


K1
Di kampus saya, lokasi K1 meliputi daerah DIY dan sebagian Jawa Tengah yang dekat dengan DIY. Sedangkan K2 adalah daerah di luar K1, termasuk daerah luar Jawa. Kenapa saya milih K1? Karena nggak punya tujuan lain. Sebenernya ada juga yang lokasinya di kabupaten sendiri tapi somehow nggak tertarik. Oh iya saya dapet lokasinya di Gunungkidul yang terkenal dengan kekeringannya itu. I'll tell you about detail of that village ini other post!


Pernah tidur dan makan di rumah warga
Saya pernahnya tidur di pondokan subunit lain sih. Kalau tidur di rumah warga tentu saya akan merasa tidak enak dengan ibu pondokan saya. Sementara itu kalau makan di rumah warga saya dan teman subunit saya makan di salah satu warga namanya Pak Supar. He is very kind to us.

Lebaran di tempat KKN
Ini sedih banget. Kebetulan dulu saya KKN pada pertengahan bulan Juni - awal Agustus dimana di tengah-tengahnya ada hari lebaran idul fitri. Tapi ada beberapa temen lain yang juga nggak pulang jadi sedikit terobati sedihnya.

Pernah nangis di KKN
HAHAHA INI PARAH SIH! Kalo diinget-inget lagi jadi malu kenapa cengeng banget. Jadi posisinya saat itu saya ada program kluster, nah salah satu teman satu kluster saya seperti nggak tanggap.  Program itu dilaksanakan di akhir-akhir masa KKN. Selain itu juga karena ada satu hal terkait pondokan tapi saya kira nggak perlu saya ceritakan disini. Setelah saya piker-pikir lagi, penyebab saya nangis saat itu adalah karena capek fisik mental jadi kebawa emosi gitu.

Sakit pas KKN
Badan sempet drop kena flu gitu untungnya nggak parah. Sebelum saya KKN saya merasa khawatir jika saya sakit disana. Saya nggak ingin merepotkan orang lain. Dan saat adaptasi di awal-awal dateng masih khawatir juga apalagi dengan kondisi tempat tinggal yang seperti itu. Well, di kost saya memang tidur di lantai beralaskan busa, tapi saat saya KKN, kasur yang saya tiduri bersama 3 roommate saya terbilang tipis dan keras. Hal ini bukan tanpa alasan, saya alergi dingin guys! Tapi Allah maha baik, kekhawatiran saya tidak terjadi. Alhamdulillah 2 bulan disana cuma drop sekali dan nggak sampai mengganggu program kerja.

Berantem/drama/bertikai di tempat KKN
Ini terkait sama kejadian saya nangis itu sih. DRAMA BANGET KAN? Oh iya sebenernya saya sama kormasit saya juga sering berantem kecil gitu sih tapi buat candaan doang. We acted like tom & jerry all the time.

Ditangisin warga saat perpisahan pulang KKN
Ini terjadi waktu kita makan-makan di rumah Pak Supar. Waktu kami pamitan beliau tak kuasa menahan air mata. Begitu juga sama istri beliau. Oh ya saat mau pulang kita juga ditangisin ibu pondokan. Mungkin ibunya sedih rumah yang udah 2 bulan ramai jadi sepi lagi.

Group KKN/Hubungan pertemanan masih utuh sampai now
Walaupun sekarang udah balik ke kehidupan masing-masing, tapi komunikasi saya sama beberapa temen masih terjalin. Bahkan ketemu lalu makan bareng.


Point-point diatas hanyalah sebagian kecil cerita KKN saya. Kadang kalo saya inget-inget lagi saya suka senyum geli gitu waktu tinggal satu atap selama dua bulan sama orang-orang yang baru kenal. It's not the end. I'll share another piece of story of my kkn lyfe in this platform.

See you in another chapter!



Kamis, 22 Maret 2018

Being Student and unconditional Love

Malam ini, seperti biasa saya pergi keluar kost untu membeli makan malam. Karena mager, saya hanya pergi ke warung tenda langganan dekat kost. Setelah memesan, saya duduk menunggu. Kemudian datanglah seorang ibu bersama kedua anaknya. Laki-laki dan perempuan yang usianya seumuran anak SD. Mereka duduk di kursi yang semeja dengan saya.

Sambil menunggu pesanan, mereka pun mengobrol-ngobrol sementara saya hanya bermain hp. Biasanya kalau ada strangers yang ada anak-anaknya saya biasanya ngobrol gitu sih kayak nanya kelas berapa, basa-basi intinya. Tapi suasana hati saya malam ini sedang tidak baik dan kebetulan mereka bertiga juga sudah asyik sendiri, jadi ya sudah saya lebih memilih diam.

Tiba-tiba si ibu bilang begini ke anak laki-lakinya:

"Besok kalau ulangan dapet jelek awas ibu nggak jemput."

BUSET! Kata saya dalam hati.

Saya melirik ke arah ibunya. Nggak keliatan tanda-tanda bercanda. Saya nggak melirik buat ngliat reaksi anaknya karena udah keburu kaget dan baper karena kalimat si ibu.

WELL. Disini masih bisa dilihat ternyata jaman sekarang masih ada orang yang memotivasi belajar anaknya dengan bentuk ancaman.

Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Kenapa ya si ibu ini lebih memilih memotivasi anaknya dengan kalimat seperti itu? Padahal masih banyak kata-kata positif yang bisa digunakan. Kata-kata penyemangat atau tawaran reward, menurut itu lebih baik digunakan kan daripada ancaman.

Ingin rasanya saya bilang ke ibu itu "Hey you, can you just encourage your son rather than threaten him? Please love your children unconditionally!"

Saya sering merasa sedih saat melihat orangtua yang memotivasi anak belajar dengan cara yang nggak positif misalnya dengan paksaan atau ancaman. Saya nggak bisa bayangin kalau si anak tadi sering "diancam" demi sebuah prestasi akademik dengan kalimat-kalimat seperti "Kalau bukan rangking satu kamu bukan anak mama!" "Masa dapet segini? Harusnya kamu dapet 10." 

Ambisi dan gengsi terkadang bisa membutakan orangtua dengan memaksakan anak belajar demi segudang prestasi akademik. Memang, orang-orang masih sering lebih mengapresiasi hasil daripada proses. Ya nggak sih? Orang-orang lebih mudah memuji anak yang rengking 1 dibanding anak yang tanggung jawab sama belajarnya.

Saya jadi teringat video di youtube dari acara Hello Counselor (Silahkan googling sendiri jika penasaran). Jadi di episode ini ceritanya tentang seorang siswa kelas 4 yang dipaksa belajar terus sama ibunya. Kalau mau menonton silahkan Klik disini!

Saya berdoa dalam hati semoga saat tumbuh besar si anak yang saya temui di warung tenda tadi nggak terbayang-bayang sama "syarat" demi kasih saying dari orang tuanya. Saya bisa relate karena saya paham rasanya gimana.

To be honest, I've ever felt that experience when I was 1st grade in elementary school. My dad was not pleased because I didn't get 1st place in my class. I remember that I cried a lot at the time. He lied to his father (my late grandfather) that I got 1st place. It's such a burden for me. Since then, I studied harder so I get 3rd place on the next semester. I didn't know what happened but my dad seems okay with it. Even when I got 1st place when I was in junior high school or senior high school, my dad didn't seem to care much about it. Nowadays he just want me to try my best to finish my study. Unfortunately, that still be my burden till now and I often feel exhausted mentally because that expectation in my past to be the best.

Apa yang saya alami sendiri dan apa yang saya lihat di lingkungan sekitar bisa jadi pelajaran buat saya kedepannya. Yang penting dalam mendidik anak adalah bukan cuma soal kognitifnya aja tapi juga dibarengi sama moral dan attitude yang baik. Mengajari anak betapa berharganya diri sendiri juga penting supaya anak tetep percaya diri alias self-esteem-nya tidak rendah.

Di masa depan, saya tidak ingin menuntut anak saya harus rangking 1 di kelas dan dapat nilai bagus. Saya akan lebih bersyukur kalau anak saya bisa bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain. Saya akan lebih bangga kalau anak saya dapat mengantri dengan tertib, bersikap sopan terhadap orang lain, berempati terhadap orang lain juga terhadap lingkungan.

Saya berdoa semoga di masa depan saya bisa jadi ibu yang bijak untuk anak-anak saya. Bukan jadi ibu yang ambisius sampai lupa psychological well-being anak-anaknya.

Selasa, 06 Maret 2018

Our relationship

Boyfriend

Romantic relationship

Dari sekian banyak hal yang saya pikirkan setiap harinya, terkadang saya memikirkan satu atau dua hal itu. Even sometimes I think about marriage, but not seriously. Saya menyadari mulai memikirkan hal tersebut sekitar satu atau dua tahun belakangan ini saat saya mulai menginjak usia dua puluh tahunan. Back to five years ago, saat usia saya 17 tahun, boro-boro saya memikirkan hal tersebut. Yang dipikirkan saya saat itu adalah bagaimana belajar yang benar demi mendapat peringkat 1 dan lolos snmptn. Se-ambisius itu? Iya. Semakin kesini, saya sadar bahwa apa yang saya pikirkan semakin kompleks dan hidup bukan cuma di dunia akademik.

Sebenernya walaupun memikirkan tentang hubungan romantis, saya nggak se-ngebet itu pengin punya pacar. Dan setelah saya pikir-pikir, It's not that bad to be single. I can do anything what I want, without being worry of hurting someone feels. Hubungan romantis yang saya pikirkan disini adalah bagaimana jika seorang izza berada di satu hubungan romantis. What should I do?

Then my mind starts wandering around. I think how to build a best romantic relationship, at least for me and my boyfriend later. Disini saya nggak bicara soal tipe laki-laki dengan 'boyfriend material' idaman saya, tapi saya bicara how to we maintain our relationship versi saya.

I eager to not show off our romantic side to others. Contohnya cerita di social media lagi pacaran, lagi kangen, apalagi lagi marah. Sesekali nge-post di social media boleh lah, tapi jangan berlebihan dan tau apa yang bisa diposting. Selain pengin kalau hubungan romantis itu yang tau cuma berdua, kalo putus malu diomongin orang euy. Saya tuh pengin yang diem-diem aja terus tau-tau nikah. Sikap yang seperti ini tentu memerlukan kedewasaan dari dua pihak, me and him. Semoga nanti kita sama-sama nggak alay pamer kemesraan di sosmed mulu yaaa.

pict credit : pinterest.com

It's better when we are mature and financially independent. Terkadang saya mikir begini "Mungkin lebih baik kalau pacaran saat udah kerja." Harapannya di usia tersebut pemikiran dan emosi udah mateng. So, it can be considered to the next level. Lalu, saat udah kerja itu kan kita udah punya uang sendiri,  jadi lebih merasa enak aja kalau mau pakai uang itu sesuka kita even buat pacaran (Pacaran juga butuh modal, bukan?). Kalo mau pacaran pake uang yang dikasih orangtua, entah kenapa saya merasa bersalah sama orangtua aja gitu.

So, that's what I think about relationship lately. It just based on my thought so don't take my words easily.

Walaupun pengin punya (ehem) pacar disaat yang tepat (seperti point kedua), saya nggak terus saklek begitu sampai menutup mata dan hati di saat sekarang. Kalau tiba-tiba lima menit  yang akan datang saya ketemu orang yang sama-sama 'klik', why not? Dan kalau itu memang kehendak Tuhan, saya bisa apa?


Kamis, 01 Maret 2018

Don't mind others ! Susah nggak?

Hari ini saya dateng ke sebuah seminar yang diadakan oleh salah satu perusahaan berbasis manufaktur kosmetik di Indonesia. Pembicaranya sangat inspiratif dan informatif. Tapi sepanjang seminar saya tidak terlalu konsentrasi menangkap apa yang disampaikan pembicara tersebut.Hal ini karena saya kepikiran ada janji bimbingan skripsi sama dosen.

Jadi saya mau cerita dulu. Setiap dihubungi untuk menanyakan kapan saya bisa bertemu dosen saya, beliau hanya menjawab dengan hari. Tidak spesifik menyebutkan jam. Ya sudahlah yaaa. Rencana awal saya mau pulang dari seminar ini sekitar jam 9 atau jam 10 untuk bertemu beliau. Tapi teman saya yang pagi ini juga ada bimbingan bilang kalau setelah dia bimbingan, dosen akan pergi keluar kampus.

JEDER!! Berasa ada petir menyambar. Eh enggak gitu juga sih.

"Untung tadi belum terlanjur cabut." kata saya dalam hati

"Tapi ntar gimana ya? Butuh bimbingan banget ini." Saya mulai sedikit cemas.

Dalam sanubari saya, saya tuh merasa bersalah aja kalo udah bikin janji tapi ngga bisa dateng. Walaupun beliau belum tentu 'ngeh' juga  karena mahasiswa bimbingannya banyak. Sama seperti halnya dateng ke seminar ini. Tadinya saya juga nggak mau dateng gara-gara ada janji dengan dosen. Tapi ada rasa nggak enak gitu udah daftar malah ngga dateng. Padahal banyak yang mau ikut tapi kuota udah penuh. Ya udah deh finally saya bisa dateng ke dua agenda sesuai rencana. Walaupun akhirnya bimbingan di jam sore banget abis dosen saya ngajar.

Back to seminar. Jadi tadi salah satu pembicara menyampaikan begini:

"Jangan sampe hidup berdasarkan pendapat orang lain."
Mon maap tadi badan saya emang di ruang seminar tapi pikiran di ruang dosen saya yang maha sibuk jadi lupa kalimat aslinya. Tapi intinya begitu.

Setelah pulang ke kost saya jadi tertegun dan termenung. Bener juga ya kata pembicara tadi. Sepanjang saya hidup, saya masih sering memikirkan pendapat orang dalam menentukan sesuatu di hidup saya. Kadang ada hal yang saya mau lakukan, tapi saat saya minta pendapat orang lain, pendapat yang mereka ungkapkan tak jarang membuat saya batal melakukan hal tersebut.

Disaat semester tua seperti ini. Terkadang ada pendapat-pendapat orang lain yang bisa mempengaruhi. Orang lain berpendapat jangan kuliah lama-lama bla bla bla. Pendapat ini yang sering bikin saya uncomfortable mentally. Ngerjain skripsi pun berasa pengin buru-buru aja tanpa menikmati prosesnya.

Contoh lain yang lebih sederhana. Saya mau upload foto lalu meminta pendapat. Menurut saya foto itu bagus, tapi menurut orang yang saya tanya foto itu jelek. Akhirnya tidak jadi upload. 

Well, kadang pendapat orang lain memang benar. Tapi yang menjalani hidup kita adalah kita sendiri. Yang menjalani hidup saya adalah saya sendiri. Saya yang tau keadaan saya sendiri. So, ini jadi reminder banget sih buat saya. Saya ini tipe orang yang ngga bisa mudah bodo amat sama pendapat orang lain. Pendapat itu saya pikirin terus.

From now on, I shouldn't mind others. This is my life. I do live by myself. I think by myself, I feel by my self, and I know my own life.

Keep it in mind ya, Za!

Tiba-tiba First Wedding Anniversary!

Time flies. Over one year living in marriage life already! Kata orang kehidupan pernikahan itu kompleks. Dan begitu gue menyelami dunia pern...

Popular Posts