Kamis, 22 Maret 2018

Being Student and unconditional Love

Malam ini, seperti biasa saya pergi keluar kost untu membeli makan malam. Karena mager, saya hanya pergi ke warung tenda langganan dekat kost. Setelah memesan, saya duduk menunggu. Kemudian datanglah seorang ibu bersama kedua anaknya. Laki-laki dan perempuan yang usianya seumuran anak SD. Mereka duduk di kursi yang semeja dengan saya.

Sambil menunggu pesanan, mereka pun mengobrol-ngobrol sementara saya hanya bermain hp. Biasanya kalau ada strangers yang ada anak-anaknya saya biasanya ngobrol gitu sih kayak nanya kelas berapa, basa-basi intinya. Tapi suasana hati saya malam ini sedang tidak baik dan kebetulan mereka bertiga juga sudah asyik sendiri, jadi ya sudah saya lebih memilih diam.

Tiba-tiba si ibu bilang begini ke anak laki-lakinya:

"Besok kalau ulangan dapet jelek awas ibu nggak jemput."

BUSET! Kata saya dalam hati.

Saya melirik ke arah ibunya. Nggak keliatan tanda-tanda bercanda. Saya nggak melirik buat ngliat reaksi anaknya karena udah keburu kaget dan baper karena kalimat si ibu.

WELL. Disini masih bisa dilihat ternyata jaman sekarang masih ada orang yang memotivasi belajar anaknya dengan bentuk ancaman.

Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Kenapa ya si ibu ini lebih memilih memotivasi anaknya dengan kalimat seperti itu? Padahal masih banyak kata-kata positif yang bisa digunakan. Kata-kata penyemangat atau tawaran reward, menurut itu lebih baik digunakan kan daripada ancaman.

Ingin rasanya saya bilang ke ibu itu "Hey you, can you just encourage your son rather than threaten him? Please love your children unconditionally!"

Saya sering merasa sedih saat melihat orangtua yang memotivasi anak belajar dengan cara yang nggak positif misalnya dengan paksaan atau ancaman. Saya nggak bisa bayangin kalau si anak tadi sering "diancam" demi sebuah prestasi akademik dengan kalimat-kalimat seperti "Kalau bukan rangking satu kamu bukan anak mama!" "Masa dapet segini? Harusnya kamu dapet 10." 

Ambisi dan gengsi terkadang bisa membutakan orangtua dengan memaksakan anak belajar demi segudang prestasi akademik. Memang, orang-orang masih sering lebih mengapresiasi hasil daripada proses. Ya nggak sih? Orang-orang lebih mudah memuji anak yang rengking 1 dibanding anak yang tanggung jawab sama belajarnya.

Saya jadi teringat video di youtube dari acara Hello Counselor (Silahkan googling sendiri jika penasaran). Jadi di episode ini ceritanya tentang seorang siswa kelas 4 yang dipaksa belajar terus sama ibunya. Kalau mau menonton silahkan Klik disini!

Saya berdoa dalam hati semoga saat tumbuh besar si anak yang saya temui di warung tenda tadi nggak terbayang-bayang sama "syarat" demi kasih saying dari orang tuanya. Saya bisa relate karena saya paham rasanya gimana.

To be honest, I've ever felt that experience when I was 1st grade in elementary school. My dad was not pleased because I didn't get 1st place in my class. I remember that I cried a lot at the time. He lied to his father (my late grandfather) that I got 1st place. It's such a burden for me. Since then, I studied harder so I get 3rd place on the next semester. I didn't know what happened but my dad seems okay with it. Even when I got 1st place when I was in junior high school or senior high school, my dad didn't seem to care much about it. Nowadays he just want me to try my best to finish my study. Unfortunately, that still be my burden till now and I often feel exhausted mentally because that expectation in my past to be the best.

Apa yang saya alami sendiri dan apa yang saya lihat di lingkungan sekitar bisa jadi pelajaran buat saya kedepannya. Yang penting dalam mendidik anak adalah bukan cuma soal kognitifnya aja tapi juga dibarengi sama moral dan attitude yang baik. Mengajari anak betapa berharganya diri sendiri juga penting supaya anak tetep percaya diri alias self-esteem-nya tidak rendah.

Di masa depan, saya tidak ingin menuntut anak saya harus rangking 1 di kelas dan dapat nilai bagus. Saya akan lebih bersyukur kalau anak saya bisa bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain. Saya akan lebih bangga kalau anak saya dapat mengantri dengan tertib, bersikap sopan terhadap orang lain, berempati terhadap orang lain juga terhadap lingkungan.

Saya berdoa semoga di masa depan saya bisa jadi ibu yang bijak untuk anak-anak saya. Bukan jadi ibu yang ambisius sampai lupa psychological well-being anak-anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiba-tiba First Wedding Anniversary!

Time flies. Over one year living in marriage life already! Kata orang kehidupan pernikahan itu kompleks. Dan begitu gue menyelami dunia pern...

Popular Posts