Selasa, 06 Maret 2018

Our relationship

Boyfriend

Romantic relationship

Dari sekian banyak hal yang saya pikirkan setiap harinya, terkadang saya memikirkan satu atau dua hal itu. Even sometimes I think about marriage, but not seriously. Saya menyadari mulai memikirkan hal tersebut sekitar satu atau dua tahun belakangan ini saat saya mulai menginjak usia dua puluh tahunan. Back to five years ago, saat usia saya 17 tahun, boro-boro saya memikirkan hal tersebut. Yang dipikirkan saya saat itu adalah bagaimana belajar yang benar demi mendapat peringkat 1 dan lolos snmptn. Se-ambisius itu? Iya. Semakin kesini, saya sadar bahwa apa yang saya pikirkan semakin kompleks dan hidup bukan cuma di dunia akademik.

Sebenernya walaupun memikirkan tentang hubungan romantis, saya nggak se-ngebet itu pengin punya pacar. Dan setelah saya pikir-pikir, It's not that bad to be single. I can do anything what I want, without being worry of hurting someone feels. Hubungan romantis yang saya pikirkan disini adalah bagaimana jika seorang izza berada di satu hubungan romantis. What should I do?

Then my mind starts wandering around. I think how to build a best romantic relationship, at least for me and my boyfriend later. Disini saya nggak bicara soal tipe laki-laki dengan 'boyfriend material' idaman saya, tapi saya bicara how to we maintain our relationship versi saya.

I eager to not show off our romantic side to others. Contohnya cerita di social media lagi pacaran, lagi kangen, apalagi lagi marah. Sesekali nge-post di social media boleh lah, tapi jangan berlebihan dan tau apa yang bisa diposting. Selain pengin kalau hubungan romantis itu yang tau cuma berdua, kalo putus malu diomongin orang euy. Saya tuh pengin yang diem-diem aja terus tau-tau nikah. Sikap yang seperti ini tentu memerlukan kedewasaan dari dua pihak, me and him. Semoga nanti kita sama-sama nggak alay pamer kemesraan di sosmed mulu yaaa.

pict credit : pinterest.com

It's better when we are mature and financially independent. Terkadang saya mikir begini "Mungkin lebih baik kalau pacaran saat udah kerja." Harapannya di usia tersebut pemikiran dan emosi udah mateng. So, it can be considered to the next level. Lalu, saat udah kerja itu kan kita udah punya uang sendiri,  jadi lebih merasa enak aja kalau mau pakai uang itu sesuka kita even buat pacaran (Pacaran juga butuh modal, bukan?). Kalo mau pacaran pake uang yang dikasih orangtua, entah kenapa saya merasa bersalah sama orangtua aja gitu.

So, that's what I think about relationship lately. It just based on my thought so don't take my words easily.

Walaupun pengin punya (ehem) pacar disaat yang tepat (seperti point kedua), saya nggak terus saklek begitu sampai menutup mata dan hati di saat sekarang. Kalau tiba-tiba lima menit  yang akan datang saya ketemu orang yang sama-sama 'klik', why not? Dan kalau itu memang kehendak Tuhan, saya bisa apa?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiba-tiba First Wedding Anniversary!

Time flies. Over one year living in marriage life already! Kata orang kehidupan pernikahan itu kompleks. Dan begitu gue menyelami dunia pern...

Popular Posts