Di postingan sebelumnya (just click here!), saya pernah bilang kalo saya bukan tipe orang yang relijius-relijius amat. Like a roller coaster, iman saya sesering itu naik turun.
Cerita ini berawal dari Papa saya yang telepon. Mama saya di sebelah Papa sih lagi masak buat buka puasa mereka puasa senin kamis. Ya biasa sih di telepon tanya lagi ngapain. Saya jawab kalau saya lagi pusing sama skripsi saya. Apa jawaban papa saya?
"Ya sudah santai aja ngerjainnya..."
(Sambil diam memasang telinga, saya sudah paham kearah mana pembicaraannya, karena sebelumnya juga seperti itu)
"...Makanya berdoa, nak. Prinsip papa tuh seperti itu. Kita nggak cuma ngandelin otak. Tapi berdoa juga sama Allah. Makanya kalo salat tuh jangan kayak orang balapan. Salat tuh harus dinikmati kayak orang lagi makan. Abis salat duduk dulu yang tenang abis itu berdoa. Mba Ica kalo siang nggak ngapain-ngapain kan? Baca surat Al-Waqiah..."
Dalam hati saya cuma membatin "Please Papa saya lagi pusing, why you should bring those preach again this time?"
Then I opened my mouth "Tapi Ica tuh nggak bisa langsung begitu, Pa. Proses yang kayak gitu buat Ica tuh jalannya harus pelan-pelan, nggak bisa langsung begitu."
Somehow pas ngomong gitu saya tuh berasa tercekat. Dan mata juga pedih berasa mau nangis.
Well, there's nothing wrong sama nasihatnya Papa. Tapi, kondisi saya yang lagi down, iman lagi turun-turunnya juga terjadi pergulatan hati. Hal itu bikin semuanya terdengar klise (Astaghfirullah ampun jangan ditiru yaaa).
Saya merasa kayak "I prayed a lot, but God didn't let me graduate this month." "I prayed that I have special one, but I am still being alone." "Why did God do this to me?"
Telepon ditutup. Saya menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengingat beberapa hal yang bikin saya nggak berlarut-larut nggak percaya sama Tuhan. Saya teringat perjalanan saya sampai di titik ini. Ya, Tuhan udah ngasih saya kekuatan sampai titik ini. Saya pun kembali sadar, dibalik tertundanya suatu keinginan pun pasti ada maksud dibaliknya. Everything happens for a reason.
Saya introspreksi ke diri saya sendiri. Salat saya belum sempurna, belum juga ibadah yang lain. Tapi Tuhan masih baik ngasih saya kekuatan sampai titik ini. Dan saya masih nggak tau diri malah minta sesuatu yang lebih. Hello, Za? Kamu sadar?
Disitulah tangis saya pecah.
Tuhan tuh beneran maha baik. Walaupun makhluknya hina, pertolongan-NYA akan selalu ada, asal kita mau minta dan percaya. Disini saya malu berasa jadi makhluk yang nggak tau diri di hadapan Tuhannya.
I was be like "Ya Allah kok gue gini amat ya? Nggak tau diri banget"
I was be like "Ya Allah kok gue gini amat ya? Nggak tau diri banget"
Dibalik rasa malu itu pun saya bertanya ke diri saya sendiri. God, please forgive me!What should I do?
Mungkin jawabannya seperti kata Papa saya. Just pray! My God is The Enricher.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar