Terkadang kita ngga bisa mengontrol sesuatu yang muncul dalam pikiran kita. Tiba-tiba bisa saja terbesitlah sesuatu yang kadang random banget dalam pikiran. Jadi gatau gimana mulainya, tapi tiba-tiba beberapa waktu yang lalu sebuah pertanyaan melintas di benak saya : DULU TUH GUE PUTUS KARENA APA YA?
Oke. Pertanyaan yang harusnya ngga penting tapi tiba-tiba terlintas aja di pikiran. Mau ngga mau, saya jadi recall memori itu.
Well, yang saya ingat, siang itu saya di rumah temen saya. Handphone saya waktu itu agak rusak hingga ngga bisa nyimpen kontak nomor orang lain. Nah gatau gimana tiba-tiba ada sms (iyaa jaman dulu kan belum jamannya whatsapp/line) yang saya yakin dari dia. Saya lupa detail isinya. Tapi ada perkataan dia yang sangat menyinggung saya dan ngga bisa saya toleransi lagi. Dia menyebut istilah yang sangat kasar yang bahkan saking polosnya saat itu saya ngga tau itu artinya apa tapi dikasih tau temen saya. Sejak itu saya putuskan dia. Sejujurnya saya ngga bisa terlalu mengingat detail dari kejadian ini. Mungkin Tuhan sengaja ngeblok memori saya tentang ini yaaa biar saya ngga sakit hati mulu :D
Selain kejadian itu yang jadi puncak masalahnya, tentu ada alasan lain yang bikin saya putusin dia. But, it's not good thing to share his bad sides here, right? Intinya, saya udah merasa relationship ini ngga baik untuk saya. Sering terlalu sakit hati dan kecewa. So yeah... It's toxic relationship (dulu belum tau istilah ini yaaa, maklum masih abg :D).
Perilaku dan sikap dia membuat sejak saat itu saya ngga bisa melihat sisi baik dia. "Everything about him is bad, I was his victim." Pikir saya sejak saat itu.
It's 2018 here. Saya curhat soal ini kepada teman kuliah saya. She said "Gini gue kan gatau ya situasinya gimana, tapi menurut gue emang lo itu waktu itu terlalu termakan sama emosi lo sendiri sampe ngga bisa kasih kesempatan doi buat ngomong. Padahal ya harusnya ga gitu kan? Tapi gatau kenapa, gue bisa memaklumi sih karena kejadiannya pas lo SMP. Itu arti emotional state lo belom stabil. Jadi menurut gue wajar kalo yg lebih penting buat lo ya emosi lo sendiri wkt itu. Lo marah, lo udah ga percaya sama dia makanya lo gamau denger apapun dari dia lagi. Dan itu buat gue wajar kalo itu adalah lo wkt SMP."
She was right, saya yang kini udah berusia 22 tahun akhirnya sadar bahwa dulu saya terlalu emosional dalam menanggapi kejadian itu. Saat itu saya melihatnya dari sudut pandang saya sendiri, padahal dia juga punya hak bicara. I never let him explained what happened at the time padahal waktu itu dia bilang itu salah paham.
But, it did happened! We broke up. Tapi saya ngga menyesalinya karena keputusan untuk keluar dari hubungan yang saya rasa adalah toxic relationship adalah hal yang benar.
Saya iseng membuka inbox dari dia di fb messenger. Fyi sekarang kita udah ngga temenan di fb. Dia duluan yang remove saya dari pertemanan di fb. Saya kembali baca pesannya. Ternyata sikap saya secuek itu ke dia sejak putus. Banyak pesan dari dia yang ngga saya balas. Tentu dengan sengaja karena pada saat itu saya tidak ingin berurusan dengan dia lagi.
Tapi saya ngga secuek itu lho yaaa. Waktu itu dia ngirim pesan ngucapin selamat atas lolosnya snmptn saya. Saya balas sambil saling ngasih semangat. Dia ngucapin selamat ulang tahun pun saya balas terimakasih. Fyi, dari kembali membaca pesan dia bikin saya inget ternyata dulu dia suka manggil saya pake nama lain yaaa. I'm not gonna mention it here :p
Hingga saya menemukan pesan yang intinya dia bertanya apa dia bisa menemui saya untuk menjelaskan sesuatu langsung di hadapan saya. Pesan itu ngga pernah saya balas. I told ya, I've never give him a chance to speak. Then now I am wondering what could he talk about.
Pesan yang paling terakhir dia kirimkan adalah tahun lalu. Dia menanyakan kabar dan minta maaf juga ke saya. Pesan itu ngga saya balas.
Well, saya menulis ini bukannya saya mau mengenang dia. We're just our past each other. Saya sudah move on, begitu juga dia. Saya pun ngga ada niatan buat kembali menanyakan hal ini ke dia. Karena itu semua udah masa lalu. Bener atau salah pun kini ngga ada artinya lagi (kayak lagu Biarkanlah nya Raisa).
Saya cuma tersadarkan bahwa, terkadang emosi membuat kita menutup mata, telinga bahkan perasaan kita sampai kita ngga bisa sisi baik seseorang.
For the first time, I feel bad for him because I never see his good side after we broke up.
But I can't do anything now. I just need to change my perception about him from now on. He's not that bad.
I repeat.
He's not that bad.
Suatu pembelajaran yang saya dapat dari sini dalam relationship adalah se-emosi apapun saya, saya harus bisa mendengarkan pasangan. Ngga ada keputusan yang baik kalo dibikin pake emosi dan dilihat cuma dari satu sudut pandang. Setiap masalah perlu diselesaikan dengan kepala dingin. Even kalaupun hubungan harus diakhiri ya harus dengan cara yang baik dimana masing-masing pihak memahami kalau udah ngga bisa bersatu lagi.
Frankly, I am confused to wrap this post LOL. But I pray that someday if we meet each other there's no awkwardness among us.
I remember Ariana Grande's song - 'Thank You, Next'- that expresses her gratitudes toward her exes. So yeah. Dear you, the one who taught me love, patience, and pain. Thank you, next!
I remember Ariana Grande's song - 'Thank You, Next'- that expresses her gratitudes toward her exes. So yeah. Dear you, the one who taught me love, patience, and pain. Thank you, next!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar